Minggu, 26 April 2009

Pengalaman Kuliah di Australia

Oleh:Mohammad Soleh Nurzaman

Australia saat ini menjadi salah satu negara tujuan belajar yang paling diminati pelajar Indonesia. Informasi dari Kedubes RI di Australia menunjukkan lebih dari 20.000 mahasiswa Indonesia belajar di Negeri Kangguru setiap tahun. Jumlah itu terus bertambah. Selain karena lokasinya yang terletak dekat dengan Indonesia, faktor yang menganggap Australia merupakan negara ‘Barat’ yang biasanya dianggap lebih maju dan mempunyai kelebihan dalam hal pendidikan seperti Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, juga menjadi alasan utama. Jika indikatornya adalah peringkat universitas terbaik dunia, beberapa institusi pendidikan tinggi Australia membuktikan hal tersebut. Survei tahunan Time Higher Education Survey dan http://www.topuniversities.com/ menunjukkan beberapa kampus di Australia seperti Australian National University (ANU) dan University of Melbourne selalu ada di peringkat 20 besar dunia.

Biaya Kuliah dan Biaya Hidup
Biaya kuliah untuk program pascasarjana (S2 – S3) di Australia relatif tinggi dibandingkan dengan beberapa negara lain. Sebagai contoh di ANU yang terletak di Canberra, biaya kuliah per mata kuliah adalah AU$ 2,750. Sehingga untuk menamatkan program master di Australia, setiap mahasiswa membutuhkan sedikitnya AU$ 22,000 (sekitar Rp 165 juta). Itupun jika dapat langsung ke program master, karena banyak program studi yang mengharuskan siswa international mengambil program penyetaraan elama 6 – 18 bulan (tergantung hasil nilai per semester), sebelum dapat melanjutkan ke tingkat master.
Pemerintah Australia melalui Australian Agency for International Development (AusAID) menyelenggarakan program beasiswa Australian Development Scholarships setiap tahunnya. Beasiswa ini secara rutin memberikan kesempatan kepada sekitar 300 kandidat master dan doktor dari Indonesia untuk kuliah di Australia. Selain itu, pemerintah Australia juga memberikan beasiswa Australian Leadership Award. Beasiswa ini lebih kompetitif karena tidak ditujukan langsung ke Indonesia, tapi ke regional Asia- Pasifik. Karena itu kita harus bersaing dengan calon kandidat se-Asia Pasifik untuk mendapatkan beasiswa ini.
Selain biaya kuliah, hal yang harus dipertimbangkan ketika memutuskan kuliah di Australia adalah biaya hidup. Biaya hidup standar yang direkomendasikan pemerintah Australia untuk seluruh negara bagian berkisar antara AU$ 18,000 sampai AU$ 20,663 per tahun untuk setiap orang. Sydney, Melbourne, dan Canberra adalah yang paling tinggi biaya hidupnya. Sedangkan Darwin dan Brisbane adalah beberapa kota yang relatif paling murah.
Komponen pengeluaran terbesar dari biaya hidup adalah untuk akomodasi, dimana besarnya sangat bergantung pada beberapa faktor. Yang pertama, apakah sang mahasiswa berangkat dengan keluarga atau tidak. Jika dengan keluarga, berapa jumlah anggota keluarganya. Jika seorang diri, apakah akan tinggal di dalam atau di luar kampus. Hal ini cukup penting untuk dipertimbangkan karena sewa di dalam kampus biasanya lebih mahal dibandingkan dengan sewa rumah di luar lingkungan kampus.

Sebagai contoh, untuk mereka yang kuliah di wilayah Australian Capital Territoy (ACT – Canberra) di wilayah dekat ANU, sewa tempat tinggal flat di luar lingkungan kampus dengan satu kamar antara A$ 800-1.000 per bulan atau sekitar Rp 6 – 7,5 juta dengan kurs Rp 7.500/A$. Sementara tempat tinggal di dalam kampus untuk single berkisar antara AU$ 600 - 800. Lazimnya, sewa diperhitungkan per pekan.
Sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari terutama makan dan minum sangat tergantung pada gaya hidup. Biaya akan dapat ditekan bila kita memasak makanan sendiri. Selain juga bisa lebih murah, hal ini juga menjadi solusi untuk makanan halal. Berdasarkan pengalaman, bila kita memasak sendiri, biaya akan dapat ditekan sekitar 50%. Misalkan, bila pengeluaran makanan per minggu, sesuai standar hidup minimum pemerintah lokal Canberra, adalah AU$100, maka dengan memasak sendiri, biaya yang dikeluarkan menjadi sekitar AU$50.

Aktivitas Kampus
Salah satu tempat paling menarik di lingkungan kampus adalah perpustakaan. Perpustakaan di sini bermakna fisik dan non-fisik (online). Perpustakaan online memberi nilai tambah yang sangat tinggi ketika kuliah di Australia. Perpustakaan yang terhubung secara online, memberikan kemudahan yang dapat mendukung kegiatan akademis terutama pencarian sumber referensi belajar yang dibutuhkan dan juga kegiatan non-akademis.
Di ANU, hampir seluruh lingkungan kampus telah terhubung internet. Mahasiswa dapat mengakses internet bahkan dari kamar asrama kampus secara gratis menggunakan fasilitas wireless melalui sambungan internet. Mahasiswa dapat men-download ratusan ribu jurnal online secara gratis yang di-update secara rutin oleh pihak perpustakaan kampus. Pendaftaran mata kuliah setiap semester, adanya ruang “chatting” untuk setiap mata kuliah, pengumpulan tugas, hingga jual-beli barang, semuanya dipermudah melalui perpustakaan online yang akses internetnya disediakan secara cuma-cuma oleh pihak kampus.
Selain surfing di perpustakaan, aktivitas menarik lainnya ketika kuliah di Australia adalah seminar akademis yang rutin dilakukan di luar kuliah. Seminar akademis ini diberikan para kandidat doktor, dosen kampus dan dosen tamu. Bagi mahasiswa Indonesia yang kuliah di ANU, mereka dapat bergabung ke komunitas Indonesia Project yang setiap beberapa minggu mengadakan seminar untuk membahas isu-isu Indonesia, terutama di bidang pembangunan sosial dan ekonomi.

Aktivitas Eksternal
Sebagai mahasiswa tentunya kegiatan yang dilakukan tidak cukup bila hanya terkait dengan kegiatan kampus saja, apalagi bagi mereka yang dulu ketika kuliah di Indonesia terkenal sebagai aktivis kampus. Di Australia, mahasiswa Indonesia yang ingin aktif di organisasi mahasiswa dapat bergabung di organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) sebagai sarana untuk aktualisasi diri. Mahasiswa Indonesia melalui organisasi ini dapat melakukan kegiatan sosial, ekonomi, olahraga, hiburan, maupun politik.

Sedangkan untuk kegiatan Islami, mahasiswa Indonesia di Australia biasanya mendirikan semacam kelompok pengajian sebagai sarana untuk menyeimbangkan kegiatan jasmani dan rohani. Di ANU, kegiatan keislaman mahasiswa Indonesia terbagi menjadi dua kegiatan utama, yaitu Pengajian Permata yang khusus dilakukan setiap bulan dan Taman Pendidikan Al-Qur’an yang rutin dilakukan setiap pekan pada hari Ahad.
Selain beraktivitas organisasi, mahasiswa Indonesia di Australia dapat mencari kerja part-time yang peluangnya sangat besar dan memberikan penghasilan yang lumayan besar. Apalagi bagi mereka yang berkeluarga, kerja part-time menjadi sangat membantu untuk menopang kebutuhan hidup di Australia. Bidang kerja yang dijalani kebanyakan bersifat klerikal, seperti teller di supermarket, cleaner, kitchen hand, dan house keeping. Pilihan kerja harus mempertimbangkan beban kuliah dan waktu senggang yang ada.

*) Alumni PPSDMS Angkatan 1 Regional 1 Jakarta,
Mahasiswa Master of International and Development Economics,
Australian National University

7 komentar:

  1. I'll grab it my friends...

    BalasHapus
  2. Universitas di Australia yg paling murah dan paling gampang syarat masuknya apa ya?
    trus kalau ICA (Imperial College Australia) itu semacam kuliah atau cuma kursus sih? soalnya disitu ga sampe S1, tapi cuma sampe diploma.

    thanks :)

    BalasHapus
  3. pengen deh bisa kul s2 di Australia :3
    gmn ya caranya...?? salah satu kndala jg masalah biaya.. kyk nya butuh budget gede ya.. hihi

    BalasHapus
  4. hi ! saya juga akan melanjutkan program master sebelumnya sudah keterima di pre-master university of newcastle UK, tapi ayah saya menyarankan untuk mencoba di ANU, apakah persyaratannya mudah ?

    dita

    BalasHapus
  5. Hai... aku Hairi Yanto. Ak ingin melanjutkan kulah S2 ke Australi. Mohon Bantuanya Dong.!!
    Call me 0831 8114 3105

    BalasHapus
  6. kalo di australia ada study matematika ga ya mas ?
    please ya bls..:)

    BalasHapus
  7. Yang pegen pilih-pilih jurusan, silakan berkunjung ke alamat ini.
    http://cricos.deewr.gov.au/course/coursesearch.aspx

    BalasHapus